One Response to “Tinjauan Lain Terhadap Budaya “Dak Kawa Nyusah””

  1. Memahami ungkapan tradisional sebagai bagian dari budaya (ungkapan tradisional termasuk sastra lisan) jangan setengah-setengah tetapi harus secara utuh, sebab setiap produk kebudayaan mengandung nilai-nilai luhur dan dihasilkan melalui proses seleksi yang panjang dan teruji kebenarannya sebagai ajaran yang mengandung kebaikan (worth)dan keberhargaan (goodness). Setiap Ungkapan tradisional yang dihasilkan leluhur kita terdiri atas dua kalimat yang mengandung kesepadanan berupa imbal dan balik atau sebab dan akibat dan harus dibaca dan dipahami secara utuh jangan sepotong sepotong, misalnya dalam unen-unen Jawa ada ungkapan “alon alon asal kelakon” kalau dimaknai ungkapan tradisional ini menunjukkan hal yang sangat buruk padahal setiap produk budaya tidak ada yang buruk karena lahir dari proses cipta, rasa dan karsa. Orang Jawa akan marah kalau dikatakan sesuai dengan unen unen di atas karena orang Jawa berarti serba terlambat,lelet,lemah karena kita hanya selalu membaca sepotongnya saja padahal ungkapan tersebut lengkapnya adalah “alon alon asal kelakon” dan kalimat potongan yang lainnya adalah “kebat keliwat” yang artinya biar lambat asal selamat daripada cepat tapi berceceran. Ini merupakan ungkapan yang sangat bijaksana. Lalu bagaimana dengan ungkapan “Dak Kawa Nyusah”, sama dengan penjelasan di atas karena kalimatnya kita baca dan dipahami sepotong-sepotong secara tidak utuh sehingga ungkapan tersebut bernilai, bahwa orang Bangka serba pemalas, apatis serta tidak kreatif, sebenarnya ungkapan tersebut sangat bijaksana bila dibaca utuh dengan balik dan akibatnya misalnya dak kawa nyusah men agik macem tu lah atau dak kawa nyusah men agik urang tu lah dan sebagainya, sehingga pemahaman kita tentang budaya Bangka dan Belitung menjadi benar, terima kasih.

Leave a Reply

*